Pegang 5.000 Proyek, Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Naikkan Target Laba

PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) menyatakan saat ini telah memegang 5.000 proyek. Dengan demikian, perseroan optimistis akan menghasilkan exponential growth di 2024. Bahkan, target pertumbuhan laba bersih dinaikkan hingga 50% pada tahun ini. 

“Kami akhirnya telah berhasil mencatatkan lebih dari 5.000 proyek yang sudah berjalan sampai saat ini. Minimal growth kita ekspektasikan 50%, karena kita ada lumayan banyak proyek-proyek yang sudah disetujui jadi tinggal kami supply di 2024,” tutur Direktur Utama Sinergi Multi Lestarindo (SMLE) Siu Min saat ditemui setelah seremoni pencatatan perdana saham di BEI, Rabu (10/1/2024).

Menurut Siu Min, dalam beberapa waktu kedepan perseroan juga memiliki kerjasama dengan principal baru dari mancanegara. Namun demikian, saat ini pihaknya belum dapat merinci terkait dengan proyek yang dimaksud, yang pasti akan bergerak untuk pembuatan kosmetika dan makanan. “Nanti kita juga ada kerjasama dengan beberapa principal baru dari internasional untuk kosmetik dan makanan, nanti kita akan publish,” sebut Siu Min.

Siu Min menjelaskan, SMLE memiliki kemitraan strategis dengan lebih dari 162 mitra dari 30 negara. Oleh karena itu, perseroan mempunyai portofolio yang sangat lengkap untuk bisa mendukung formulasi-formulasi di pusat application and innovation center SMLE. Saat ini pun pihaknya telah berhasil menciptakan lebih dari 3.000 prototype siap pakai yang menjadi pelopor ide bagi produk-produk di pelanggan.

“Kami juga memiliki standar seleksi yang sangat ketat sebelum memutuskan untuk bekerja sama dengan mitra strategis kami. Agar produk-produk yang kami pasarkan mempunyai standar yang tinggi dan terjamin tidak ada cacat produksi atau zero defect selama proses produksi di pabrik pelanggan kami,” lanjut Siu Min. 

Disisi lain, Siu Min meminta agar para investor lebih memahami soal model bisnis mereka. Model bisnis SMLE dikatakan olehnya, berbeda dengan perusahaan perdagangan kimia pada umumnya, dimana perusahaan berfokus pada produk-produk dengan karakteristik khusus. Oleh karenanya, proses penjualan memerlukan waktu setidaknya enam bulan. Bahkan, ada juga beberapa proyek mereka yang memakan waktu dua tahun.

“Hal ini disebabkan adanya berbagai tahapan produk yang cukup memakan waktu, mulai dari kelengkapan dokumen, formulasi-formulasi, aplikasi ke produk, pengetesan prototype hingga trial production dan mass production,” jelas Siu Min.

Oleh karena itu, lanjut Siu Min hal tersebut menciptakan tingkat kesulitan yang tinggi  untuk masuk ke dalam bisnis ini. Namun setelah proyek berjalan, bahan baku SMLE akan sulit sekali digantikan dan menciptakan ketergantungan pasokan yang lama.

“Untuk itu, demi keberlangsungan perseroan, tim penjualan kami terdiri dari para ilmuwan seperti dokter, ahli kimia, ahli gizi, ahli pangan, apoteker yang bekerja sama dengan para peneliti dari mitra strategis dan pelanggan setia,” tutup dia.

Sumber : Investor.id